SATYAKU KUDARMAKAN DARMAKU KUBAKTIKAN.................... Satu Pramuka untuk Satu Indonesia, Jayalah Indonesia................

Minggu, 03 Juli 2011

Pentingnya Pembinaan Kaum Muda Bagi Keberhasilan Gerakan Pramuka


Keberhasilan Gerakan Pramuka tidak terlepas dari bagaimana kegiatan Pramuka dapat mencetak generasi muda untuk mencapai tujuan. 
Ada faktor utama untuk melihat keberhasilan tersebut yaitu :
1. Dapat membentuk karakter, watak, akhlak mulia generasi muda bangsa.
2. Dapat meningkatkan cinta tanah air, semangat bela negara, dan solidaritas sosial.
3. Dapat meningkatkan keterampilan kaum muda sebagai kecakapan hidup (life skill).
(Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Prof.Dr.dr. H. Azrul Azwar, MPH mengungkapkan itu di depan para peserta Kursus Pengelola Dewan Kerja (KPDK) Tingkat Nasional tanggal 24 Januari 2011 di Cibubur, Jakarta.)


Sangatlah tepat makna suatu prinsip bahwa ujung tombak pelaksanaan Kepramukaan adalah gugus depan, karena di gugus depanlah sebenarnya tempat mencetak generasi muda secara langsung, nyata dan mendalam. Untuk itu Gugus Depan menjadi prioritas bagi Kwartir untuk terus dikembangkan pola pembinaannya, dalam hal ini pengelola yang handal sangat dibutuhkan ketersediaannya guna melaksanakan fungsi kwartir di ujung tombak pelaksanaan kepramukaan.


Dalam dunia penegak dan Pandega, KPDK merupakan upaya meningkatkan profesionalisme pengelolaan Dewan Kerja, dengan kata lain KPDK adalah upaya mencetak tenaga/pengelola Dewan Kerja ditingkat nasional, daerah, cabang dan ranting serta Dewan Ambalan dan Dewan Racana di tingkat Gugus Depan, agar pelaksanaan pembinaan peserta didik di setiap jenjangnya dapat di kelola dengan benar dan senantiasa sesuai dengan Tujuan Kepramukaan .


Sukses buat rekan-rekan DKC Sampang 2010-2015 dalam kegiatan KPDK Sampang 2011 di Kecamatan Kedungdung tanggal 15 s.d. 17 Juli 2011.

Semoga tercapai semua harapan dan tujuan dari pelaksanaan KPDK Sampang 2011......

Kamis, 09 Juni 2011

Pesan Terakhir Boden Powel

Jika kamu pernah melihat sandiwara peter pan, maka kamu akan melihat mengapa pimpinan bajak laut selau membuat pesan-pesannya sebelum meninggal, karena dia takut kalau-kalau tidak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya jika saat ia menutup matanya telah tiba.
Demikian halnya dengan diriku meskipun waktu ini aku belum meninggal, namun saat itu akan tiba juga bagiku oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekadar kata perpisahan untuk minta diri…………………………
Ingatlah ini adalah pesan yang terakhir bagimu oleh karena itu renungkanlah  !
Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku. Saya yakin bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira, kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, tidak juga dari jabatan yang menguntungkan, ataupun kesenangan bagi diri sendiri.jalan menuju kebahagiaan adalah membuat dirimu lahir dengan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat menikmati hidup, jika kamu kelak telah dewasa.
Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya.
Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan suatu hal daripada mencari kejelekan-kejelekan. Jalan nyata menuju kebahagiaan adalah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar kamu dapat meniggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik dari pada tatkala kamu tiba di dalamnya, dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas, karena kamu tidak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakan sebaik-baiknya. Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia. Masukkanlah paham itu senantiasa dalam JANJI PRAMUKAMU, meskipun kamu bukan kanak-kanak lagi dan Tuhan akan berkenan memberikan karunia pertolongan kepadamu dalam usahamu.

Temanmu,

Boden Powell

Rabu, 08 Juni 2011

Lunturnya Jati Diri

Salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh pendidikan kepramukaan saat ini adalah kekhawatiran semakin lunturnya jati diri Gerakan Pramuka akibat  terkikisnya pelaksanaan Prinsip Dasar  Kepramukaan dan Metode Kepramukaan. Hal ini berakibat bahwa proses pendidikan kepramukaan semakin kehilangan warna aslinya, sehingga kualitas proses dan hasil pendidikannya tidak sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, banyak sekali alat pendidikan menjelma menjadi sebuah tujuan sehingga "terlaksana" menjadi sebuah akhir dari suatu tujuan, dengan demikian Pendidikan Kepramukaan kehilangan essensinya. Sebab lain melunturnya jati diri Gerakan Pramuka/pendidikan kepramukaan adalah terlalu melekatnya pendidikan kepramukaan (yang notabene adalah bentuk pendidikan non formal) pada lembaga pendidikan formal. Akibatnya terjadi intervensi pengelola lembaga pendidikan formal (sekolah) yang kurang memahami karakter proses pendidikan kepramukaan ke dalam Gerakan Pramuka. Bagi pengelola jajaran Gerakan Pramuka (Kwartir) campur tangan pengelola lembaga pendidikan formal tersebut memang tidak selamanya negatif, namun yang paling merasakan adalah para peserta didiknya. Seringkali peran Pembina Pramuka dirangkap oleh guru pada sekolah yang bersangkutan, hal ini sebenarnya agak merepotkan peserta didik dalam berinteraksi dengan Pembinanya (yang juga gurunya) yang di dalam proses pendidikan kepramukaan berhubungan sebagai kakak dan adik. Disamping itu bagi Pembina akan muncul berbagai kendala dalam menerapkan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan karena perannya sebagai guru pada pangkalan Gugusdepan yang bersangkutan.
Keadaan yang paling mengkhawatirkan adalah kesalahan penerapan Metode Kepramukaan oleh para Pembina. Tidak jarang kita jumpai para Pembina menerapkan metode latihan dan pembelajaran yang berlaku di dalam pendidikan formal pada proses pendidikan kepramukaan. Misalnya dengan penggunaan metode klasikal/ massal dan terlampau dominasinya penggunaan metode ceramah dalam latihan kepramukaan. Keadaan tersebut menyebabkan bosannya peserta didik terhadap latihan kepramukaan. Padahal Boden Powell mengemukakan bahwa pendidikan kepramukaan adalah permainan gembira di alam terbuka. Namun hal tersebut jangan diartikan sempit dengan cukup menerapkan sebuah latihan di lapangan terbuka serta mengajak adik-adik tepuk-tepuk dan bernyanyi. Melainkan menerapkan metode latihan sesuai Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan dalam rangka memberikan materi-materi guna mencapai tujuan Gerakan Pramuka.
Hal yang dipandang esensi dalam pelaksanaan metodik pendidikan kepramukaan adalah penerapan sistem tanda kecakapan dan sistem beregu. Melalui sistem tanda kecakapan potensi yang berbeda pada setiap peserta didik dikembangkan secara optimal. Sistem tanda kecakapan mendidik Pramuka untuk memiliki motivasi mencapai yang terbaik, serta keinginan untuk maju dan mengembangkan diri. Apabila seorang Pramuka telah mencapai suatu syarat kecakapan tertentu akan diberi penghargaan, yaitu berupa tanda kecakapan yang dikenakan pada baju seragam Pramuka. Sedangkan melalui sistem beregu Pramuka dididik untuk bergaul dan bermasyarakat pada kelompok kecilnya dan satuan-satuannya. Penerapan sistem beregu diharapkan mampu menggeser metode klasikal yang dipandang kurang menguntungkan bagi proses pendidikan kepramukaan.
Namun kenyataannya sekarang kita sangat jarang menjumpai para Pramuka yang mengenakan berbagai tanda kecakapan di baju seragamnya. Sementara itu dalam penerapan sistem beregu Pembina sekedar membagi Pramuka dalam regu-regu atau kelompok-kelompok kecil lainnya secara fisik, tetapi tidak diikuti implementasinya. Jadi hakekat sistem beregu tidak terletak semata pada pembagian Pramuka ke dalam kelompok-kelompok kecil, tetapi pada penerapannya menjadikan regu/kelompok sebagai kesatuan kerja dan bermain baik dalam disiplin maupun dalam menjalankan kewajiban. Dengan demikian menuntut pula kemauan dan kepercayaan Pembina untuk memberikan kekuasaan dan tanggung jawab ke pada pemimpin regu.
Maka apabila kita hendak meningkatkan jati diri Gerakan Pramuka maka hendaklah berpandangan usaha pendidikan kepramukaan tidak hanya bersandar pada isi/materi yang diberikan namun yang paling penting adalah metodenya (PDK dan MK). Karena perbedaan pendidikan kepramukaan dengan bentuk pendidikan lainnya terletak pada metode dan pendekatan yang digunakan dalam mengisi jiwa anak. Sebagai sebuah metode dan pendekatan pendidikan, PDK dan MK memberikan arahan, rambu-rambu bagi para Pembina dalam mendidik peserta didiknya dan memberikan inspirasi bagi bentuk seluruh program kegiatan kepramukaan. 
Revitalisasi Gerakan Pramuka dan UU No.12 Tahun 2010 adalah sebuah upaya dan semangat untuk mengembalikan jati diri Gerakan Pramuka yang merupakan Perekat Bangsa melalui pembinaan dengan warnanya yang  khas dan berfokus pada pembentukan mental dan moral sesuai dengan kode etik Gerakan Pramuka. 

Minggu, 27 Maret 2011

Pramuka Sampang Tempo Doeloe ...........

Clean Up The World 2004
 Jamcab 2004
 Kursus Pengelola Dewan Kerja 2004


  Lintas Alam 2007

Latihan Pengembangan Kepemimpinan 2002

 Pemantapan Pengurus DKC Tahun 2000
 Pemantapan Pengurus DKC Tahun 2005
 Musppanitera Tahun 2005

 Perkemahan Gabungan I Tahun 2004


Raimuna Cabang I  Tahun 2002

Siparcab 2003

Kamis, 17 Juni 2010

Disiplin ........................

Definisi
Sec. Umum      :      Kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada Aturan, Keputusan dan perntah yang ada / berlaku.
Sec. Khusus    :      Sikap mentaati peraturan dan ketentun yang telah ditetapkan tanpa pamrih.

Tatanan Hukum & Aturan
Landasan ideologi
Landasan Konstitusional
Landasan Operasional :
ü      Kepres
ü      SK Kwarnas
ü     Aturan Lain

Negatif Effek
Kerugian Personal
Kerugian Kelompok

Miniatur Disiplin Training
Shalat
Keluarga
Perkemahan

Tips & Trik praktis
Pahami Sistem/aturan
Tumbuhkan motivasi
Lakukan mulai dari hal kecil
Lakukan Sekarang
Istiqomah / continue

Harapan Positif
Ketertiban
Kerapian
Keindahan
Kenyamanan, dll
Kesuksesan yang Paripurna




Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan MAN Sampang 13-15 Nop 2009